KONSEP MITIGASI PENANGANAN LUAPAN LUMPUR SIDOARJO (LUSI) BERBASIS GEODINAMIK

                  Banjir lumpur panas Sidoarjo, juga dikenal dengan sebutan Lumpur Sidoarjo (Lusi), adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas yang terjadi di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama satu dekade lebih menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian dalam lima belas desa dalam tiga kecamatan  serta telah melumpuhkan aktivitas perekonomian di Jawa Timur karena berada di jalan arteri yang menghubungkan jalur Selatan dan Timur Jatim.

                Munculnya lumpur Sidoarjo ini disebabkan oleh adanya sesar watukosek dan sesar siring, yang diawali oleh mud diapir yang terdapat pada daerah sedimen yang kemudian mengalami Overpressure  dan keluar kepermukaan dengan mencari rekahan atau bidang yang lemah. titik semburan lumpur Sidoarjo ini merupakan titik pertemuan sesar aktif watukosek dan sesar aktif siring, Menurut Rohim (2008) Sesar geser kiri Watukosek diinterpretasikan berdasarkan kelurusan dari gawir Bukit Watukosek, pembelokan alur Sungai Porong yang berganti arah dari Barat ke Timur membelok ke arah Timur Laut- Barat Daya atau mengikuti pola kelurusan sesar Watukosek yang kemudian menerus ke arah pusat semburan Lumpur Sidoarjo  (gambar 1).

Gambar 1. Interpretasi kelurusan Gawir Bukit Watukosek, pembelokan Sungai Porong Dan lusi yang berhimpit dengan zona sesar watukosek (Rohim,2008)

                   Bukit Watukosek merupakan bukit yang berada di daerah Barat Daya dari lusi. Bukit Watukosek merupakan suatu bukit yang berbentuk morfologi Cuesta yang merupakan bentuk lahan struktural dengan kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak simetri dengan sudut lereng (gambar 2a) , gawir yang nampak di bukit ini merupakan indikasi adanya sesar karena pada kenampakkan morfologinya yang memiliki beda elevasi yang awalnya tinggi langsung berubah menjadi landai dan mempunyai pola kelurusan Timur Laut-Barat Daya. Sungai porong yang membelok secara tiba-tiba diidentifikasikan sebagai akibat pergerakan sesar aktif watukosek interpretasi digambarkan dengan pemodelan kelurusan Sesar Watukosek.

Gambar 2 Dimensi pemodelan interpretasi kelurusan sesar watukosek dan bukti di lapangan (Handoko. T. W, 2008)

                  Pada kenampakan dilapangan juga di temukan gores garis (slicken slide)  yang memiliki arah Timur Laut-Barat Daya mengarah ke semburan (gambar 2c) dan arah Barat Laut-Tenggara (gambar 2b) . di bagian utara dari semburan terdapat patahan (gambar2e), kemudian rusaknya tanggul bagian utara yang di sebabkan adanya subsidence oleh sesar aktif watukosek (Gambar 2d). Setelah beberapa tahun sejak kejadian pertama kali, luapan lumpur mengalami penurunan intensitas seperti hilangnya rembesan gas dan crack disekitar lokasi semburan dan penurunan debit lumpur yang keluar (Handoko. T. W, 2008). Meskipun demikian, ancaman bahaya masih tetap ada. Potensi Geohazad disekitar luapan lumpur Sidoarjo, diantaranya suhu lumpur yang masih panas, gas yang keluar di pusat semburan, kondisi tanah yang labil, serta ancaman keberadaan sesar aktif Watukosek dan sesar Siring yang melintas di area semburan lusi. Menurut Rohim, (2008) Ancaman paling besar adalah potensi tanggul jebol. Ancaman bahaya tersebut dikarenakan tanggul Lumpur Sidoarjo berada di area pengaruh 2 (dua) sesar aktif yaitu Sesar geser kiri Watukosek yang berarah Timur Laut-Barat Daya dan Sesar geser kanan Siring yang berarah Barat Laut-Tenggara (Gambar 3).

Gambar 3 Peta Zona potensi Tanggul Jebol (Rohim, 2008)

                 Crack atau retakan yang muncul sebagai dampak dari semburan Lumpur Sidoarjo muncul secara merata di sekitar lusi namun intensif di sebelah timur tanggul penahan luapan lumpur yaitu di Desa Renokenongo dan Desa Glagaharum serta di sebelah barat  tanggul yaitu di Desa Siring Barat dan Desa Pamotan. Retakan-Retakan ini disebabkan karena efek penurunan tanah subsidence di sekitar pusat semburan Lumpur Sidoarjo. Retakan yang terjadi di sekitar semburan lumpur sudah merusak bangunan dan infrastruktur yang ada, antara lain rumah warga, jalan raya, jembatan, dan tanggul penahan luapan lumpur Sidoarjo. kenampakan  tanah yang mengalami Uplift dan subsidence Berdasarkan data sekunder yang didapat dari BPLS (Wibowo, 2007) diinterpretasikan dengan pengindraan jauh menggunakan InsAR.

                    Interferometric Synthetic Aperture Radar (InsAR) merupakan teknologi penginderaan Jauh yang menggunakan citra hasil dari satelit radar.  Satelit radar memancarkan gelombang radar secara konstan, kemudian gelombang radar tersebut direkam setelah diterima kembali oleh sensor akibat dipantulkan oleh target di permukaan bumi, Berdasarkan satelit (InsAR) (gambar 4) pada area lusi terjadi subsidence dan uplift secara periodik, hal ini merupakan resultante pergerakan dari sesar Watukosek dan Siring serta luapan lumur di pusat semburan.

Gambar 4. Kenampakan subsidence dan uplift  pada lumpur sidoarjo menggunakan citra satelit ERSDAC dengan mengunakan metode InSAR  (Wibowo, 2007)

                 Menurut Rohim (2008)  Peta potensi penyebaran lumpur sidoarjo lebih dominan pada bagian tanggul sebelah Utara sampai ke Timur Laut  dari pusat semburan lumpur seperti (gambar 5). Faktor ini disebabkan karna penyebaran lumpur mengikuti topografi yang landai ke arah Utara, Timur Laut  pusat semburan. Walaupun daerah Lumpur Sidoarjo merupakan daerah yang datar, namun memiliki relatif kemiringn ke arah Timur Laut dengan perbedaan elevasi yang tidak terlalu besar. Zona bahaya tinggi luapan lumpur berada pada tanggul bagian utara disebabkan fondasi pada tanggul tidak menyentuh tanah dasarnya karna pada saat proses pembuatan tanggul terjadi luapan lumpur terlebih dahulu dari pada pembangunan tanggul, sehingga pada kondisi saat ini tanggul kurang kokoh dalam menahan luapan lumpur. Di samping itu aktifitas struktur sesar aktif  yang melewati tanggul tersebut menyebabkan kerawanan jika terjadi jebol dan lumpur bercampur air akan melimpas ke pemukiman dan jalan raya.

Gambar 5 potensi sebaran lumpur sidoarjo berdasarkan analisis sesar dan beda elevasi (Rohim, 2008)

                      Kerentanan yang terjadi di Lumpur Sidoarjo (geohazard) dan upaya penanganannya (mitigasi) wajib dilakukan dalam rangka penanganan dan mereduksi bahaya  potensi luapan  lumpur sidoarjo. Berdasarkan data dan fakta geologi di lapangan seperti keberadaan sesar aktif, frekuensi lokasi tanggul yang jebol, data geoteknik serta geofisika, upaya mitigasi yang disarankan adalah pembuatan tanggul dengan jarak yang sesuai zona Buffering dan pengaturan tata guna lahan, mengingat kondisi tanggul saat ini sudah terlalu dekat  dengan pemukiman warga. Di samping itu memperkuat daya dukung  tanggul di sarankan untuk membuat fondasi bangunan tanggul yang menyentuh tanah dasar. Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) sudah melakukan beberapa manajemen bencana  Lumpur Sidoarjo seperti penambalan  tanggul  yang rusak, rekayasa pembuatan pembuangan air ke sungai untuk meminimalisir kejenuhan  air pada lereng namun masih belum bisa efektif mengatasi kerentaan yang terjadi. Dengan adanya ide baru ini diharapkan penangan dan mitigasi bencana lumpur sidoarjo lebih manageable sehingga dapat mereduksi risiko geohazard yang ditimbulkan.

Gambar 6 Peta Rancangan Tanggul Lusi

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohim, M. 2008. STUDI MIKROZONASI RISIKO BENCANA GEOLOGI DI SEKITAR SEMBURAN LUMPUR PANAS DI DAERAH PORONG, KABUPATEN SIDOARJO, PROVINSI JAWA TIMUR. Yogyakarta. UNIVERSITAS GADJAH MADA

Geoffrey, S. P., Thomas, J. C., Handoko, T. W., Robert, J. R., Craig, A. J., George, N. B., … & Michael, W. A. (2008). Preliminary Analytical Results for a Mud Sample Collected from the LUSI Mud Volcano, Sidoarjo, East Java, Indonesia. US Geological Survey.

 

2 Comments to “KONSEP MITIGASI PENANGANAN LUAPAN LUMPUR SIDOARJO (LUSI) BERBASIS GEODINAMIK”

  1. Materinya bagus sekali.

    1. terima kasih, kami akan kembangkan lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *